Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers

Fandi Ahmad: Tetap Ramah Dan Tak Punya Pacar

By Caesar Sardi - Selasa, 26 Februari 2013 | 12:00 WIB
Fandi Ahmad. (Dok. Tabloid BOLA)

Keramahannya tidak berubah sekalipun sudah lama tidak ketemu dan selama 10 bulan terakhir bergaul dengan rumpun bangsa lain. "Hallo!", ia menyapa sambil mengacungkan tangan, ketika bertemu penulis di salah satu sudut pertokoan di Jalan Tunjungan Surabaya, Sabtu lalu.

Fandi Ahmad masih seperti dulu. Hadir lagi di Surabaya bersama klub Groningen Belanda untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan bekas klubnya, Niac Mitra, ia masih tetap pemuda yang ramah dan sederhana, meski nama, reputasi, dan kekayaannya sudah jauh meninggi.

"Sekarang udara di Surabaya panas sekali, ya," keluhnya sambil mengusap peluh di pelipisnya tanpa sapu tangan. Memang, Fandi sekitar jam 11.00 itu nampak mandi keringat seperti habis olahraga. Ia mengenakan pakaian sportif warna biru laut.

Bercerita mengenai kehidupannya di Groningen Fandi mengatakan klubnya keras, baik dalam persaingan antar pemain maupun penerapan disiplin. Tak heran sebab Groningen memang klub profesional. "Latihannya sangat berat," tuturnya.

Tetapi udara dingin di Belanda, menurut Fandi justru mendukung kemantapan latihan. Berlatih pada siang hari tidak terasa melelahan. Jika tidak ada kompetisi, latihan dilakukan tiga kali sehari, pagi, siang, dan sore. Baik di lapangan berumput maupun lapangan berpasir. Melakukan latihan di lapangan berpasir, katanya lebih berat dan banyak mengeluarkan tenaga.

Gembira

Fandi merasa betah bergabung dengan Groningen, kendati peraturannya dinilai keras. "Cocok untuk pengembangann karir saya di sepakbola," kata Fandi. Tawaran perpanjangan kontrak dengan Groningen, yang akan habis 30 Juni mendatang, karena itu mungkin akan diterimanya.

Tentang besarnya kontrak, ia tetap merahasiakan. "Ah, itu tak usah saja. Bisa membuat tidak enak orang lain," pintanya mengalihkan pembicaraan.

Fandi ditempatkan di luar asrama klubnya, yakni di rumah keluarga bangsa Indonesia asal Kalimantan, Asura, dosen Universitas Groningen. Maksud menempatkan Fandi di luar asrama, katanya agar kerasan dan merasa kehidupan sehari-harinya selalu berada di lingkungan keluarga bangsa Asia.

Untuk transportasi kegiatan berlatih, Fandi memperoleh mobil sendiri. Tapi Fandi yang serba apa adanya itu tidak bersedia menyebutkan merk mobil inventarisnya, meski kabarnya ia diberi jatah sebuah Porsche.

Ketika Groningen mulai rencana tour ke Asia Tenggara, Fandi merasa gembira karena bakal ketemu dengan orangtuanya di Singapura maupun teman lainnya. "Asrama Niac Mitra selalu terbayang di mata saya," kata Fandi.

Di asrama Niac Mitra di Jalan Dr. Soetomo 34, Surabaya, Fandi memang merasa dibesarkan namanya. Di asrama tersebut Fandi menempati satu kamar bersama David Lee, penjaga gawang rekan senegaranya yang juga bersama dia dikontrak Niac Mitra.

Balas Budi

Agustinus Wenas, bagi Fandi, merupakan "orangtua" yang ikut membesarkan. "Saya tidak lupa budi baik Pak Wenas, Pak Basri, dan teman-teman di Niac Mitra. Saya sudah berkunjung ke sana dan bertemu dengan mereka semua," ujar Fandi.

Sikap menghargai kebaikan orang lain dalam diri Fandi terlihat begitu ia tiba di Surabaya. Sore harinya ia langsung berkunjung ke rumah dinas Walikota Drs. Moehadji Widjaja.

Selama memperkuat klub Niac Mitra, Fandi oleh masyarakat kota Surabaya memang diangkat sebagai warga kehormatan kota Surabaya. Penghormatan itu diberikan sebagai penghargaan atas dedikasinya menjunjuhg nama Surabaya dan Jawa Timur, melalui persepakbolaan.

"Ketika ditanya, tentang kemungkinan pada suatu saat kembali lagi ke Niac Mitra atau klub lainnya di Indonesia jika PSSI membuka pintu lagi untuk menerima pemain asing, Fandi secara diplomatis menjawab masih ingin mencari pengalaman di tempat lain dulu.

Di Niac Mitra dulu, Fandi menyumbang gol yang cukup spektakular dalam kompetisi. Sedangkan di klub Groningen, ia telah melakukan 22 kali pertandingan dari 34 kompetisi dengan 9 gol yang dicetaknya. Dalam perebutan Piala Eropa ia mencetak satu gol, hingga ia membuat dia menjadi orang ketiga dalam mencetak gol terbanyak di klubnya.

Tanggal 29 Mei ini Fandi memasuki usia 22 tahun. Tetapi katanya ia belum mempunyai pacar tetap untuk teman hidup. "Semua hanya teman biasa saja bagi saya," ujarnya tentang gadis-gadis kenalannya yang boleh dikata segudang, baik di Singapura, Surabaya, maupun Groningen.

(Penulis: Sutiman, Tabloid BOLA edisi no. 13, Jumat 25 Mei 1984)